Kocek Mahal Rela Dikeluarkan Guna Mendongkrak Penampilan

Posted by Ganas003 on 21.51 in

Memiliki suatu barang kerap dijadikan sebagai pandangan status bagi sebagian orang. Tentu saja, orang yang memakainya bakal kian percaya diri alasannya yaitu (merasa) lebih tinggi daripada yang berada di sekitarnya. Hal ini sah-sah saja kok Bung, alasannya yaitu tentu ada kepuasan tersendiri bagi yang memilikinya bukan? Terlebih lagi barang yang dimiliki masuk ke dalam kategori premium yang harganya pun tak main-main. Sekaligus sanggup menciptakan Bung tak habis pikir, mengapa timbul cita-cita untuk mengeluarkan kocek dalam-dalam demi sebuah barang yang secara esensi tak jauh berbeda dengan yang harganya relatif terjangkau.


Lebih kagetnya lagi, barang tersebut yaitu sepatu, baju atau topi. Misalnya saja, barang premium macam Luis Vuitton dan Chanel yang memang biasa digunakan oleh orang borjuis dengan harga puluhan juta per itemnya. Pemakainya pun bakal merasa kian percaya diri, karena dilirik dan bakal jadi materi percakapan (bagi yang mengerti). Hal ini tak jauh berbeda dengan sebuah program yang bertajuk Jakarta Sneakers Day 2018 yang Minggu kemudian diadakan di sebuah sentra perbelanjaan di Senayan. Sneakers memang mengacu kepada sepatu, tetapi pada pagelaran ini juga menjual topi dan baju.


Sneakerhead atau sebutan bersahabat bagi pecinta sneakers memadati pagelaran ini untuk berburu sepatu. Namun tidak hanaya sepatu, bahkan baju atau topi dari merek Supreme, Baithing Ape, dan Off White yang masuk kategori streetwear pun juga menjadi incaran guna mengawinkan sepatu mentereng dengan atasan (pakaian) yang beken. Lantas apa yang menciptakan sebagian orang begitu menyayangi sneakers Bung?


Menaikkan Status Sosial Lewat Outfit Berkelas Hingga Harga Puluhan Juta Bukan Suatu Batas


Memiliki suatu barang kerap dijadikan sebagai pandangan status bagi sebagian orang Kocek Mahal Rela Dikeluarkan Guna Mendongkrak Penampilan


Memakai barang guna menaikan status sosial seseorang di circle pertemanan atau di kalangan publik memang kenyataan. Tak ada anggapan “sayang” atau “mubazir” nampaknya untuk mereka yang ingin tampil lebih lewat penampilan. Akun semacam Hypebeast pun  ditengarai menjadi role model bagi banyak kalangan untuk bergaya kekinian. Miki, salah seorang yang berjaga di SNS Sneakers di Jakarta Sneakers Day, juga mengiyakan pernyataan tersebut.


Menurutnya pasar Indonesia, khususnya para sneakerhead sudah memandang sepatu dengan harga jutaan bukan lagi ke esensi atau daya guna, melainkan sebuah prestise dan pujian Bung. Bahkan laki-laki berwajah oriental ini juga mengutarakan, meski dibanderol dengan harga ratusan juta saja ia yakin sepatu sanggup terjual.


“Kalau berdasarkan gua langsung untuk kisaran harga sneakers itu bisa dari 0 hingga tak terhingga. Karena gua pernah melihat ada yang kaya gitu. Seperti ada orang yang menjual sepatu NMD Pharrel Williams Chanel dengan harga 100 juta ++ dan itu sold out,” kata Miki.


Lantas apakah outfit yang mahal sanggup mendongkrak penampilan hingga menjadikan kepercayaan? Hal tersebut diamini oleh Edo, salah satu pengunjung yang kerap mengoleksi sepatu Air Jordan. “Kalau untuk menaikan status sosial sih bisa iya. Kalau saya langsung sih suka model dulu, terus gres cocok sama gayanya.”


Sebagai teladan lainnya bahwa harga bukan merupakan batasan untuk bergaya terlihat di  channel YouTube milik YOSHIOLO misalnya, yang kerap menciptakan konten soal barang branded di kalangan anak muda. Dalam satu videonya yang dilakukan di pagelaran Jakarta Sneakers Day 2018 Yoshi menanyakan sebarapa mahal outfit yang digunakan kepada pengunjung. Terdapat satu orang yang mengaku menggunakan sweater Supreme X Luis Vuitton, yang dibeli dengan harga Rp 72.000.000.


Kalau Kocek Tidak Mumpuni, Apakah Membeli Barang KW Dapat Diamini? Atau Tidak Dapat Diampuni?


Memiliki suatu barang kerap dijadikan sebagai pandangan status bagi sebagian orang Kocek Mahal Rela Dikeluarkan Guna Mendongkrak Penampilan


Bagi mereka yang tidak sanggup tercukupi finansialnya untuk membeli yang original, barang KW dijadikan sebuah opsi guna memuaskan hasrat mempunyai barang yang tak sanggup dibeli. Meskipun secara kualitas berbeda bahkan terlampau jauh. Namun, orang tersebut (mungkin saja) besar hati alasannya yaitu mempunyai barang yang diinginkannya meskipun hanya serupa aslinya.


Seperti dikala mewabahnya sepatu Yeezy, banyak orang berburu untuk mendongkrak kekiniannya di mata publik meskipun dengan sepatu KW sekalipun. Hal ini tentu bertentangan bagi Edo dan juga Miki yang merupakan sneakerhead.


“Paling sih jikalau gua liatnya sayang, kaya ‘aduh ngapain sih beli fake’. Dan berdasarkan gua mendingan orang itu beli barang yang ori yang ia mampu. Dari pada ia beli fake, dan orang bakal tau kan jikalau itu fake. Mendingan ia beli New Balance yang memang harganya relatif murah, apalagi kini sering sale. Dari pada beli Yeezy yang fake, berdasarkan gua nggak harus begitu alasannya yaitu masih banyak pilihan lain,” tegas Miki soal sepatu KW.


Bahkan jikalau berdasarkan Edo, ia tidak mau judge orang yang menggunakan KW. Tapi ia menyarankan supaya menabung lebih ulet lagi guna mempunyai barang yang dimau secara original. Sepatu KW memang menjamur dan sulit diberantas. Namun, menjamurnya sepatu KW alasannya yaitu meningkatnya pula penawaran kan Bung? Makara ya masuk akal saja jikalau sepatu tersebut tetap merajalela di pasaran bawah tanah.


Haruskah Memiliki Barang Jutaan Guna Mendongkrak Penampilan?


Memiliki suatu barang kerap dijadikan sebagai pandangan status bagi sebagian orang Kocek Mahal Rela Dikeluarkan Guna Mendongkrak Penampilan


Ketika Bung dihadakan pertanyaan, apakah Bung ingin atau mau mempunyai barang branded guna mendongkrak penampilan. Mungkin balasan yang muncul bakal bermacam-macam yang keluar dari lisan Bung. Akan tetapi, penampilan tak mesti didongkrak lewat sebuah barang branded. Namun Bung bisa menggunakan barang yang memang bisa Bung beli tanpa harus yang bermerek tinggi. Toh penampilan juga sanggup dimaafkan apabila Bung mapan. Sejalan dari itu semua doktrin diri dan status sosial bisa dipandang tinggi apabila isi otak Bung berisi.