Ketika Si Nona Melaksanakan Kesalahan Ini, Bung Hanya Dapat Bengong Tanpa Tindakan

Posted by Ganas003 on 21.51 in

Nampaknya si nona mempunyai hak veto dalam hal pembenaran setiap sikapnya yang kerap kali salah mengambil tindakan. Padahal si nona sudah sering kali mengutarakan komitmen untuk tidak akan mengulanginya lagi. Tapi setiap kali, komitmen si nona lebih seolah-olah sebuah omongan tanpa isi yang tak sanggup dipegang atau pun diamalkan. Bung yang mencicipi kesal dan jengkel pun, hingga tidak tega untuk menegur atau memarahinya.


Padahal jikalau Bung tidak memarahai dan tidak mengingatkannya, si nona tidak sanggup berpegang pada prinsipnya. Kalau ini terus berjalan begitu saja tentu sanggup menjadi hal yang jelek bagi dirinya sendiri. Sedikit berbeda dengan Bung yang sudah berapa kali dituntut berubah ketika melaksanakan kesalahan pada si nona, dan Bung pun segera introspeksi sembari menata diri kembali.


Menyelesaikan Masalah Tanpa Pikir Panjang, Membuat Si Nona Ujung-ujungnya Geram


Nampaknya si nona mempunyai hak veto dalam hal pembenaran setiap sikapnya yang kerap kali s Ketika Si Nona Melakukan Kesalahan Ini, Bung Hanya Bisa Terdiam Tanpa Tindakan


Ketika problem mencuat dengan segala kepelikannya di setiap sisi, menciptakan si nona panik dan juga emosi. Begitu emosi mulai melanda hati, si nona pun terburu-buru mencari solusi. Tanpa basa-basi ia eksklusif melancarkan solusi tersebut hingga ujung-ujungnya menyesal karena tidak berpikir panjang. Anehnya, tak cuma sekali tetapi berkali-kali. Bung pun selalu mengingatkan sedari awal untuk menuntaskan problem dengan kepala dingin. Namun si nona pun tak mendengarkan, hingga kesannya Bung angkat tangan, meski kadang jadi target korban kekesalannya.


Si Nona Kerap Mengecap Bung Tidak Peka. Padahal Ketika Ditanya Ada Masalah, Si Nona Selalu Menggelengkan Kepala


Nampaknya si nona mempunyai hak veto dalam hal pembenaran setiap sikapnya yang kerap kali s Ketika Si Nona Melakukan Kesalahan Ini, Bung Hanya Bisa Terdiam Tanpa Tindakan


Ya begitulah si nona, selalu menghadirkan teka-teki yang buat pria untuk berpikir sendiri. Ibarat ujian tanpa kisi-kisi, Bung harus mengerjakannya sekuat tenaga dan hati. Si nona pernah dirundung problem hingga mukanya ngedumel lecek yang menciptakan Bung bertanya-tanya ada apa. Seraya dengan halus ia menjawab, “Tidak ada apa-apa”, meskipun Bung tahu ada problem tetapi mengoreknya menjadi hal yang sia-sia. Ketika emosinya sudah mencapai ubun-ubunnya, lagi-lagi Bung jadi korbannya dengan menerima cap sebagai pria tidak peka.


Selalu Mendengarkan Omongan Orang Lain Meskipun Kenyataan Yang Terjadi Sangatlah Berbeda. Tapi Apa Daya, Si Nona Tetap Teriris Hatinya


Nampaknya si nona mempunyai hak veto dalam hal pembenaran setiap sikapnya yang kerap kali s Ketika Si Nona Melakukan Kesalahan Ini, Bung Hanya Bisa Terdiam Tanpa Tindakan


Ketika kehidupannya kerap dijadikan materi pembicaraan beberapa orang hingga hingga kepada telinganya, tentu menciptakan si nona tak yummy badan. Maaf, maksudnya tak yummy hati. Kejadian itu menciptakan si nona down dan kerap menangis alasannya populer syndrom social justice. Padahal Bung bilang, abaikan saja, mirip anjing menggonggong kafilah berlalu. Tapi bagi si nona kutipan bijak itu tak sanggup menjadi jawaban. Intinya, omongan orang niscaya ada, lebih baik tak usah didengarkan. Karena hidup itu kita yang jalani tapi orang lain yang pusingi.


Perihal Diet Menjadi Aksara Kambuhan Yang Kerap Tak Bisa Dilakukan


Nampaknya si nona mempunyai hak veto dalam hal pembenaran setiap sikapnya yang kerap kali s Ketika Si Nona Melakukan Kesalahan Ini, Bung Hanya Bisa Terdiam Tanpa Tindakan


Untuk urusan makanan, Bung selalu sanggup melahap apa saja alasannya tubuh Bung tidak simpel melar. Beda halnya dengan si nona, yang sanggup terbuka perutnya hingga kelihatan gemuk dari biasanya. Menjadi gendut tentu hal yang tidak disukai oleh wanita. Alhasil jadwal diet pun dijalankan, namun programnya tak berjalan alasannya selalu beringas jikalau melihat makanan. Ketika Bung coba mengingatkan, si nona malah sentimen, dengan senjata andalannya si nona berkata, “Kamu harus menyayangi saya apa adanya!”. Padahal apabila tubuh si nona bagus, tentu ia juga bakal suka.


Kerap Membicarakan Pernikahan Dan Pelaminan Namun Tak Bisa Menabung, Karena Kalap Melihat Diskonan


Nampaknya si nona mempunyai hak veto dalam hal pembenaran setiap sikapnya yang kerap kali s Ketika Si Nona Melakukan Kesalahan Ini, Bung Hanya Bisa Terdiam Tanpa Tindakan


Ada dua hal yang saling berkaitan dengan si nona, ialah belanja. Belanja nampaknya menjadi momok yang sulit dihindarkan sehingga si nona tak sanggup memisahkan mana yang harus dibeli dan tidak. Namun hal yang tidak perlu dibeli seketika ingin dimiliki ketika ada diskonan yang menarik hati. Tak pelak, Bung selalu mengingatkan wacana komitmen dan ikatan ijab kabul yang kerap kali diucapkan setiap telponan. Tetapi si nona bilang, “Ini terakhir, besok saya mulai nabung,”. Ya sudahlah Bung, lebih baik dengarkan dan berdoa saja semoga si nona sanggup disadarkan.